Kpkmsultra.com-Bombana, Sulawesi Tenggara – Pencopotan Ramsy Sallo Ketua Tamalaki Pu’u Wonua baru-baru ini menuai sorotan dan pertanyaan dari berbagai pihak. Tamalaki, yang dikenal sebagai organisasi garda depan dalam membela dan menjaga adat budaya Suku Moronene, kini menjadi sorotan terkait keputusan pencopotan tersebut.
Kejadian bermula saat demonstrasi yang membahas pro dan kontra Sentuhan Khas Bombana “Rapa Dara” di Aula Pertemuan Dinas Perpustakaan Kabupaten Bombana 6 Oktober 2025.Ketua Tamalaki Pu’u Wonua terlibat adu argumen dengan Bupati Bombana. Tak lama setelah kejadian tersebut, Ketua Tamalaki Pu’u Wonua dicopot dari jabatannya.
Keputusan ini menimbulkan pertanyaan tentang dasar pencopotan tersebut. Jika alasan pencopotan adalah karena adu argumen dengan Bupati, banyak pihak menilai hal ini terlalu prematur. Adu argumentasi dianggap wajar dalam situasi yang memanas.
“Ironis, organisasi yang seharusnya menjadi perisai bagi Etnis/Suku Moronene, justru terkesan dikecilkan oleh oknum-oknum tertentu,” ujar Anugrah, salah satu tokoh masyarakat dan pengurus lembaga adat. Anugrah juga menyoroti perbedaan perlakuan terhadap Tamalaki di wilayah lain, seperti Etnis Tolaki dan Mekongga, yang sangat dilindungi oleh lembaga adat mereka.
Kontradiksi muncul ketika Tamalaki menunjukkan perannya, justru ketuanya dicopot. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang logika yang digunakan dalam pengambilan keputusan tersebut.
Idealnya Pihak Terkait Memanggil Ketua Tamalaki Pu’u Wonua Untuk Diminta Klarifikasi Mengenai Keikutsertaan Aksi Demontrasi Kemarin. Jangan Ujuk Ujuk di Copot Seperti ini. Sama halnya Memperlihatkan Contoh atau Sikap Otoriter.
Jika Tindakan Ketua Tamalaki di Anggap Keluar Dari Marwah Organisasi Tamalaki Puu Wonua, Ya di beri sanksi Adat sesuai Dengan Budaya dan Adat Istiadat Moronene.
Bagaimana Kita Mau di Pandang Orang Lain, Di Segani Oleh Orang Lain Kalau Di Internal saja Terjadi Hal Seperti ini.
Bukannya Saling Mendukung, Justru Sebaliknya.
Saya Kenal Baik Pak Ramsy Sallo (Ketua Tamalaki Pu’u Wonua yang di copot) Beliau Adalah Sosok Pemberani, Sosok Yang Paling Lantang Bersuara Bila Menyangkut Moronene.
DNA Ke Moroneneannya Tidak Perlu di Ragukan.
Sikap Pemberani Itulah Yang Mestinya Menjadi Figur Pemimpin Organisasi Tamalaki.
Anugrah Halik Saleara menambahkan, “Saya merasa terpanggil untuk mengomentari hal ini. Sebagai bagian dari pengurus lembaga Adat. Dan Sebagai Bagian Dari Moronene saya memiliki otoritas untuk memberikan tanggapan pribadi.” Ia juga menyadari bahwa opininya ini bisa berujung pada pengucilannya dari lembaga adat.
“Saya Tidak Peduli Yaa I don’t Care ” jika Tanggapan Saya Nantinya Berbuntut Di Keluarkannya saya dari Lembaga Adat.
Kasus ini memicu diskusi tentang independensi organisasi adat dan perlindungan terhadap tokoh-tokoh adat yang berani menyuarakan pendapat. Masyarakat menanti penjelasan lebih lanjut mengenai alasan pencopotan Ketua Tamalaki Pu’u Wonua dan berharap kejadian ini tidak melemahkan peran Tamalaki dalam menjaga adat dan budaya Suku Moronene.
(Red)

Tinggalkan Balasan