Muna, kpkmsultra.com-15 Juli 2025 Dalam semangat mempererat tali persaudaraan dan melestarikan budaya leluhur, Pemersatu Masyarakat Muna Indonesia (PMMI), Tamalaki Formakom, dan Angkatan Muda Bumi Anoa (AMBA) Sultra menggelar perjalanan spiritual budaya di Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara. Kegiatan ini merupakan bagian dari forum komunikasi empat pilar keluarga, khususnya antara masyarakat Muna dan Tolaki.
Acara ini dipimpin langsung oleh Ketua Umum PMMI sekaligus Ketua Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) Muna, YM La Ode Riago, SH, bersama Dewan Adat Rire Sara Kerajaan Mekongga, Tolea Syarif Hidayatullah. Turut hadir perwakilan Tamalaki Formakom dan tokoh-tokoh adat serta generasi muda dari berbagai daerah.
Menurut Lukman Ichsan, SH, MH, selaku Humas PMMI dan Humas Organisasi Kelembagaan serta Protokoler MAKN Muna, kegiatan ini merupakan bentuk konkret dari kolaborasi budaya yang mengangkat nilai-nilai kearifan lokal. “Kami sepakat menjadikan forum komunikasi ini sebagai ruang paripurna bagi keluarga besar Muna dan Tolaki. Kegiatan ini juga menjadi bagian dari dukungan terhadap pelaksanaan Festival Liangkobori yang digelar di Kabupaten Muna,” ungkapnya.
Perjalanan spiritual ini meliputi ziarah dan doa bersama di sejumlah situs sakral peninggalan sejarah, antara lain:
Mahkam Raja Muna XIV La Ode Husaini (Omputo Sangia)
Mahkam Kapitalau La Ode Makuta
Masjid Omputo Sangia
Masjid Muna
Situs Petilasan Wadumapo yang dikenal secara turun-temurun sebagai pusat bumi menurut kisah leluhur.
Kegiatan ini tidak hanya menjadi momentum refleksi dan penghormatan terhadap leluhur, tetapi juga simbol persatuan antar-suku yang memiliki ikatan sejarah dan emosional yang kuat. Salah satu bukti kedekatan tersebut adalah keberadaan makam Kapita Konggoasa, tokoh keturunan Raja Muna, yang dimakamkan di Taman Makam Watuputih, Muna.
“Alhamdulillah, perjalanan spiritual ini menjadi bukti bahwa hubungan emosional dan historis antara masyarakat Muna dan Tolaki tetap terjaga. Ini adalah warisan nilai yang tidak boleh hilang di tengah arus modernisasi,” tutur Tolea Syarif.
Di akhir kegiatan, seluruh peserta memanjatkan doa dan membaca Al-Fatihah sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah mewariskan adat, budaya, dan semangat persatuan.lp Iksan

Tinggalkan Balasan