kpkmsultra.com-Kendari -26 September 2025-Setiap tahun, bulan September menjadi momentum duka mendalam bagi masyarakat Sulawesi Tenggara, khususnya keluarga besar mahasiswa. Tanggal 26 September 2019 tercatat sebagai September Berdarah, ketika dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Imam Randi (21) dan Yusuf Kardawi (19), kehilangan nyawa saat aksi demonstrasi menolak sejumlah rancangan undang-undang di Kota Kendari.

Tragedi ini terjadi di tengah gelombang perlawanan mahasiswa di berbagai daerah Indonesia. Aksi di Kendari saat itu berlangsung damai, namun berujung pada insiden yang menelan korban jiwa. Randi tewas akibat tembakan peluru tajam, sementara Yusuf meninggal setelah mengalami luka serius di kepala. Peristiwa ini menyisakan luka kolektif yang hingga kini belum sepenuhnya terjawab dengan keadilan.

Dalam momentum peringatan tahun ini, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sulawesi Tenggara turut mengambil peran penting. Melalui aksi tabur bunga, doa bersama, dan long march dari kampus menuju titik aksi, PMII menegaskan bahwa tragedi September Berdarah harus terus diingat sebagai simbol perjuangan mahasiswa melawan ketidakadilan.

Ketua PMII Sulawesi Tenggara menegaskan bahwa gugurnya Randi dan Yusuf tidak boleh hanya dipandang sebagai peristiwa kelam, tetapi juga menjadi bahan bakar perjuangan mahasiswa.

“Randi dan Yusuf adalah simbol keberanian dan suara rakyat yang dibungkam dengan peluru. PMII berkomitmen untuk terus mengawal demokrasi, menuntut keadilan, serta memastikan kasus ini tidak dilupakan. Negara tidak boleh lalai menegakkan kebenaran,” tegasnya dalam orasi peringatan.

Sejumlah elemen mahasiswa, pemuda, dan masyarakat juga ikut serta dalam kegiatan ini. Diskusi publik tentang reformasi hukum dan penegakan HAM digelar untuk memperkuat kesadaran kritis generasi muda.

Tragedi September Berdarah di Kendari adalah luka sejarah bangsa. Nama Randi dan Yusuf akan selalu tercatat sebagai martir mahasiswa yang gugur demi tegaknya demokrasi, keadilan, dan keberpihakan terhadap rakyat.
(LP. Fajar)