Laworo –kpkmsulra.com- Pemerintah Kabupaten Muna Barat kembali disorot akibat pengadaan mobil dinas baru berwarna putih berpelat DT 1 R yang kini digunakan oleh Bupati La Ode Darwin. Di tengah efisiensi, keterbatasan infrastruktur dasar dan tekanan ekonomi masyarakat, kebijakan ini dinilai sebagai bentuk pemborosan anggaran dan kepemimpinan yang kehilangan empati.
Aswar, aktivis muda progresif Muna Barat yang dikenal luas dengan sapaan Sang Revolusioner, angkat bicara lantang. Ia menyebut, pengadaan kendaraan dinas di tengah ketimpangan pelayanan dasar masyarakat adalah bentuk pengkhianatan terhadap tanggung jawab sosial seorang pemimpin.
“Di banyak desa, warga masih berjalan kaki di jalan rusak, petani mengeluh karena irigasi mati dan benih tak sampai, tapi pemimpinnya melenggang nyaman dalam mobil baru. Ini kepemimpinan yang lebih sibuk tampil gagah daripada turun ke lumpur bersama rakyat,” tegasnya, Sabtu (26/7/2025).
Aswar mempertanyakan komitmen moral Bupati Darwin yang selama ini mengusung tagline ‘Liwu Mokesa’. Menurutnya, slogan tersebut kini telah menjadi simbol kosong yang hanya dipakai untuk pencitraan, tanpa hadir dalam kebijakan konkret yang menyentuh kebutuhan rakyat.
“Liwu Mokesa seharusnya mencerminkan keberpihakan kepada rakyat kecil, bukan kemewahan elite penguasa. Kalau orientasi pembangunan hanya untuk mengganti mobil dinas, maka slogan itu hanyalah baliho tanpa ruh,” ucapnya tajam.
Ia membandingkan tindakan Bupati dengan teladan dari Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, yang menolak mobil dinas baru senilai hampir Rp 3 miliar dan memilih mengalokasikan anggaran tersebut untuk 600 unit gerobak sampah demi penguatan lingkungan di tingkat RW.
“Lihat Yogya! Pemimpinnya menolak fasilitas dan memilih bantu rakyat. Di sini, pemimpinnya sibuk tampil di mobil dinas berpelat DT 1 R, seolah itu simbol kepemimpinan. Ini pemimpin atau selebriti?” kata Aswar menyindir.
Tak lupa, Aswar mengajak masyarakat sipil, mahasiswa, dan pemuda untuk bangkit melawan kepemimpinan yang sekadar menjual slogan tanpa keberpihakan nyata.
“Kita butuh perubahan, bukan kemasan. Kita butuh keberanian, bukan kenyamanan. Dan kita butuh pemimpin yang setia pada rakyat , bukan yang sibuk mengurus kenyamanan pribadi,” tutupnya.(Redaksi)


Tinggalkan Balasan