kpkmsultra.com-Jakarta – 11 Januari 2026-Isu panas mengguncang internal Kepolisian Republik Indonesia. Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW.FRN), Agus Flores, secara terbuka membunyikan alarm bahaya terkait dugaan adanya gerakan internal yang tidak sejalan dengan kepemimpinan Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit Prabowo.

Dalam pernyataan kerasnya, Agus menegaskan bahwa seluruh program Kapolri sejatinya progresif, diterima publik, dan berpihak pada rakyat, mulai dari Program Presisi, larangan gaya hidup mewah, keterbukaan terhadap kritik, percepatan pelayanan, penguatan pengaduan Propam melalui Balkot dan 110, hingga komitmen tegas memberantas narkoba.

“Program Kapolri itu tidak ada yang salah. Semuanya bagus dan dirasakan masyarakat. Yang jadi masalah, ada yang tidak mau menjalankan,” tegas Agus.

Agus menyebut, berdasarkan temuan dan pengamatannya di lapangan, pelanggaran terhadap arahan Kapolri justru terjadi secara sistemik dan berulang.

“Slow respon, laporan masyarakat di-ghosting, dan masih ada polisi yang pamer kekayaan. Ini bukan kelalaian biasa, ini pembangkangan terhadap perintah Kapolri,” ujarnya tajam.

Lebih jauh, Agus Flores melontarkan pernyataan paling serius: dugaan adanya upaya melemahkan hingga mengganti Kapolri dari dalam institusi sendiri.

“Dalam analisa saya, ada pihak-pihak internal yang memang tidak menginginkan Jenderal Listyo Sigit menjabat kembali. Polanya jelas: programnya dilemahkan, perintahnya tidak dijalankan, citra institusi dibiarkan rusak,” ungkapnya.

Agus bahkan menyebut kondisi tersebut sebagai indikasi awal ‘kudeta senyap’ terhadap kepemimpinan Kapolri, meski dilakukan tanpa senjata dan tanpa deklarasi terbuka.

“Saya melihat ini bukan kritik biasa, tapi upaya sistematis melemahkan Kapolri. Kalau ini dibiarkan, yang rusak bukan Pak Kapolri saja, tapi kepercayaan publik terhadap Polri,” katanya.

Meski mengaku mengetahui nama-nama perwira tinggi yang dimaksud, Agus menegaskan tidak akan membuka identitas mereka ke publik.

“Saya tidak akan menyebutkan ke media jenderal mana yang tidak suka Kapolri. Itu akan saya sampaikan langsung, secara tertutup,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi sorotan tajam terhadap soliditas internal Polri dan menegaskan bahwa tantangan terbesar reformasi kepolisian justru datang dari dalam tubuh institusi sendiri.(Redaksi)