Kpkmsultra.com-Muna, Sulawesi Tenggara – Amba Sultra (Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara) bersama Media Center Majelis Adat Indonesia (MAI) terus memperkuat kolaborasi dalam menjaga, merawat, dan memajukan warisan budaya serta ekonomi kreatif di seluruh jazirah Bumi Anoa. Salah satu fokus pentingnya adalah keberadaan Tenun Masalili, mahakarya tekstil tradisional dari Desa Masalili, Witeno Wuna, Kabupaten Muna.
Dalam kunjungan langsung ke sentra tenun tersebut, Stenly Diover ST, Ketua Umum Amba Sultra sekaligus Kepala Media Center MAI Sultra, mengungkapkan kekagumannya atas keberlangsungan tradisi menenun yang masih sangat kuat. Hampir di setiap rumah warga, aktivitas produksi tenun tradisional dilakukan secara mandiri dengan berbagai motif khas, warna alami, serta teknik pengerjaan yang diwariskan turun-temurun.
> “Tenun Masalili bukan sekadar kain. Ini adalah identitas, kebanggaan, dan kekuatan ekonomi kreatif masyarakat Muna. Melihat bagaimana tradisi ini bertahan dan berkembang, kami sangat optimistis bahwa budaya Sultra akan terus hidup dan mendunia,” ujar Stenly.
Mahakarya Budaya dari Bumi Wuna
Tenun Masalili telah lama dikenal sebagai karya tekstil etnik yang berkelas nasional. Pembuatannya dilakukan secara tradisional, menggunakan benang pilihan serta pewarna alami, sehingga menghasilkan kain yang bukan hanya indah, tetapi juga sarat nilai filosofi.
Keindahan Tenun Masalili bahkan pernah tampil di panggung nasional, salah satunya ketika Presiden Joko Widodo mengenakan kain bermotif Masalili pada perhelatan Hari Pers Nasional (HPN) beberapa tahun lalu.
Motif-motif khas yang dikenal masyarakat Wuna antara lain Bhotu, Samasili, Manggo-manggopa, Ledha, Kaso-kasopa, Kabodhodo, Kaoleno Ghunteli, hingga ragam motif kontemporer hasil kreasi para penenun muda. Setiap motif membawa makna mendalam—mulai dari simbol alam, tatanan sosial, hingga nilai-nilai adat Wuna yang dijaga secara turun-temurun.
Aset Ekonomi Kreatif yang Menguat
Selain bernilai budaya, Tenun Masalili juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat. Harga tenun bervariasi, mulai dari kategori terjangkau hingga kelas premium yang dapat mencapai Rp2 juta–Rp2,5 juta per lembar, terutama untuk motif besar dengan pengerjaan detail dan waktu produksi yang panjang.
Rentang harga tersebut sepadan dengan proses pembuatannya yang sepenuhnya mengandalkan ketelitian tangan dan bahan alami, sehingga menghasilkan produk berkualitas tinggi dan tahan lama.
Peran Pengrajin Lokal: Wa Ode Ngkululi dan Generasi Penenun Muda
Salah satu pengrajin yang sangat dikenal adalah Wa Ode Ngkululi, penenun senior yang tetap setia mempertahankan teknik tradisional sambil terus berinovasi. Ia menghasilkan berbagai produk unggulan, mulai dari kain bermotif khas, pakaian adat, kampurui, hingga kain etnik siap olah untuk fashion modern.
Lebih dari itu, Wa Ode Ngkululi aktif melakukan pemberdayaan generasi muda, khususnya gadis-gadis desa Masalili. Mereka dilatih menenun secara lengkap—mulai dari pewarnaan alami, pengikatan motif, hingga proses perajutan benang. Program ini bukan hanya menjaga tradisi, tetapi juga membuka peluang ekonomi kreatif bagi anak-anak muda di daerah.
Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas
Tenun Masalili menjadi bukti bahwa warisan budaya dapat terus hidup ketika dijaga dan dimajukan oleh masyarakatnya. Melalui dukungan Amba Sultra, MAI, serta para pengrajin setempat, Tenun Muna kini semakin kuat sebagai identitas budaya yang mampu bersaing dalam industri kreatif nasional.
Dengan kekayaan motif, nilai estetika tinggi, dan kontribusi sosial-ekonomi bagi warga, Tenun Masalili tidak hanya menjadi kain, tetapi simbol kebanggaan Bumi Anoa yang layak diperjuangkan dan dipromosikan hingga tingkat internasional.(Red)

Tinggalkan Balasan