Kpkmsultra.com-Jakarta – 30 November 2025-Tokoh nasional sekaligus pemerhati filsafat, Agus Flores, kembali memicu perbincangan publik melalui pandangan tajamnya mengenai hakikat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Dalam tulisan reflektif yang ia susun sejak masa kuliah dan pernah meraih nilai A+ di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar tahun 1999, Agus menegaskan bahwa manusia bukanlah makhluk paling sempurna, melainkan ciptaan terakhir dengan kecenderungan merusak.

Agus, yang dikenal akrab dengan mendiang Rektor Universitas Tadulako, Prof. Dr. Syahbudin Mustafa, menyebut bahwa alam, tumbuhan, dan hewan justru lebih sempurna karena menjalankan peran sesuai kodratnya.

“Yang mengambil harta alam adalah manusia. Yang memakan hewan juga manusia. Yang rakus harta dan uang, hanya manusia,” tegas Agus.

Manusia adalah Herbivora dan Karnivora Sekaligus

Mengutip Kamus Bahasa Indonesia (EYD), Agus menyebut manusia sebagai pemakan segala.
Karena memakan tumbuhan dan hewan, manusia otomatis masuk kategori herbivora sekaligus karnivora.

Kontradiksi Moral: Agama Dibayar, Anti-Korupsi Hanya Cerita

Agus mengkritik fenomena ceramah agama yang dibayar dan moralitas yang tidak sejalan dengan perilaku.

“Ceramah soal surga-neraka, tapi dibayar. Bicara anti-korupsi, tapi kalau diberi uang besar tetap tergoda. Bagaimana bisa disebut mulia?” ujarnya.

Menurut Agus, manusia dipenuhi sifat ego, iri, amarah, dan kerakusan. Sifat-sifat ini, katanya, telah ia pelajari sejak lama dalam tafsir Surat Al-Baqarah.

Manusia Merampas Sifat Tuhan

Agus menilai banyak sifat ketuhanan yang “diklaim” oleh manusia:

Sombong

Merasa berhak menjatuhkan hukuman mati

Mengaku maha kaya

Merasa maha pintar dengan gelar akademik

Ia menceritakan pengalaman ketika mempertanyakan pengetahuan hukum seorang mahasiswa S2 yang kini telah bergelar profesor.

“Kalau sudah profesor, hati-hati. Itu sifat-sifat mendekati Firaun,” katanya.

Soal “Dewa”: Logika Spiritual dan Roh Pengawas Alam

Agus juga menyinggung istilah “Dewa” yang menurutnya sering disalahartikan.
Dalam analogi spiritual yang ia bangun, setelah penciptaan Malaikat, terdapat Roh lain yang diberi tugas mengawasi alam, hewan, dan manusia. Roh inilah yang kemudian dinamai manusia sebagai “Dewa”.

Raja dan Presiden Bukan Perwakilan Tuhan

Agus menolak klaim bahwa pemimpin duniawi adalah wakil Tuhan.

“Hanya Malaikat yang menjadi perwakilan Tuhan. Manusia tidak pernah disebut sebagai wakil Tuhan,” tegasnya.

Manusia: Makhluk Paling Rendah, Paling Banyak Diuji

Agus menegaskan bahwa manusia adalah ciptaan terakhir setelah alam, hutan, air, tumbuhan, dan hewan.
Dengan akal yang diberikan Tuhan, manusia justru menjadi makhluk yang paling banyak diuji.

“Manusia memakan hewan, merusak alam, berebut harta Tuhan. Maka manusia bukan makhluk tertinggi, tetapi makhluk paling rendah yang paling berat ujiannya,” tutup Agus.(Red)