kpkmsultra.com-Jakarta – Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW.FRN) Counter Polri, Agus Flores, menegaskan komitmen organisasinya untuk menjalankan fungsi pers sebagai mitra kritis negara yang berlandaskan kecepatan, objektivitas, serta nilai etika kebangsaan.

Agus Flores menyampaikan bahwa PW.FRN hadir sebagai elemen kontrol sosial yang bekerja cepat (fast respon) dalam menyerap aspirasi masyarakat, sekaligus mendorong transparansi dan profesionalisme institusi negara, termasuk aparat penegak hukum.

“Pers bukan musuh negara, tetapi mitra kritis yang bertugas menjaga keseimbangan demokrasi. Kritik harus dibangun secara objektif, berimbang, dan bertanggung jawab,” tegas Agus Flores.

Seiring dengan itu, narasi tentang warisan sejarah Majapahit dan nilai etika kekuasaan kembali mencuat ke ruang publik menyusul beredarnya sebuah visual bertema kebangsaan dan kepemimpinan di media sosial. Visual tersebut menampilkan sosok R. Mas MH Agus Rugiarto, SH, dengan latar bangunan bercorak arsitektur Majapahit.

Dalam narasi yang menyertainya, disebutkan bahwa garis keturunan Sultan Agung Partika Candra masih menyimpan markas atau padepokan Bhayangkara kuno peninggalan Majapahit. Pesan utama yang disampaikan menekankan pentingnya pengendalian diri bagi para penguasa agar tidak terjebak dalam kerakusan kekuasaan.

Pesan tersebut dipandang sebagai refleksi nilai-nilai kepemimpinan Nusantara yang menekankan keseimbangan antara kekuasaan dan tanggung jawab moral. Dalam tradisi Jawa kuno, kekuasaan tidak dimaknai semata sebagai alat dominasi, melainkan sebagai amanah yang harus dijalankan dengan kebijaksanaan, laku spiritual, serta keberpihakan kepada rakyat.

Pengamat budaya menilai, kemunculan narasi semacam ini mencerminkan kerinduan publik terhadap figur kepemimpinan yang berakar pada etika, sejarah, dan kearifan lokal. Simbol-simbol Majapahit dimaknai sebagai pengingat akan kejayaan Nusantara yang dibangun melalui persatuan dan tata kelola kekuasaan yang beradab.

Agus Flores menegaskan bahwa nilai-nilai tersebut sejalan dengan semangat PW.FRN dalam menjalankan fungsi pers. Menurutnya, pers yang kuat adalah pers yang tidak hanya kritis, tetapi juga berakar pada nilai moral, budaya, dan kepentingan rakyat.

PW.FRN Counter Polri diharapkan terus menjadi jembatan komunikasi antara masyarakat, pers, dan negara, sekaligus penjaga etika publik agar kekuasaan tetap berada dalam koridor hukum, moral, dan keadilan sosial.(Red)