Kpkmsultra.com-KENDARI – Wakil Ketua Pengurus Besar (PB) Angkatan Muda Bangsa (AMBA) Sulawesi Tenggara, Muhammad Fidarto, S.Pd, melontarkan kritik mendalam terkait strategi pemberantasan narkoba di Indonesia.

Menurutnya, selama pemerintah hanya fokus pada penyitaan barang bukti tanpa merusak ekosistem ekonominya, masalah narkoba tidak akan pernah tuntas.

Fidarto menilai bahwa narkoba saat ini bukan sekadar isu kriminalitas, melainkan sebuah industri bayangan yang telah terintegrasi dengan ekonomi informal, jalur logistik, hingga celah hukum yang sengaja dipelihara.

Narkoba sebagai Masalah Ekonomi-Politik
Dalam narasinya, Fidarto menekankan bahwa pendekatan yang selama ini dilakukan cenderung hanya menyentuh permukaan. Ia menyebut bahwa selama keuntungan finansial bagi para aktor utama masih jauh lebih besar daripada risiko hukumnya, siklus peredaran akan terus berlanjut.

“Pemberantasan hanya akan menjadi siklus tanpa akhir: bandar diganti, jalur berpindah, namun pasar tetap hidup,” tegas Fidarto.

Ia mendorong negara untuk berhenti terjebak dalam ilusi bahwa memenjarakan pengguna adalah solusi utama. Baginya, pengguna adalah produk dari tekanan sosial, stres ekonomi, dan krisis makna hidup yang seharusnya ditangani melalui pendekatan kesehatan publik.
Fokus pada ‘Arsitektur Keuntungan’
Fidarto menguraikan tiga poin utama yang harus menjadi fokus baru pemerintah dalam memutus rantai narkoba:
Pembongkaran Jalur Logistik: Memperketat pengawasan pelabuhan dan titik distribusi yang selama ini menjadi celah.

Pelacakan Aliran Uang (Follow the Money): Menghancurkan jaringan keuangan ilegal agar bisnis ini tidak lagi menggiurkan secara ekonomi.

Penindakan Aktor di Balik Layar: Berani menyentuh kekuatan besar yang memegang kendali, bukan hanya menangkap pelaku kecil di lapangan.
Strategi Rasional: Merusak Model Bisnis
Menurut Wakil Ketua PB AMBA Sultra ini, keberhasilan pemberantasan narkoba tidak boleh diukur dari seberapa banyak orang yang ditangkap, melainkan dari seberapa jauh negara mampu merusak model bisnis narkoba itu sendiri.

“Selama strategi masih fokus pada efek (produk), bukan penyebab (ekosistem), maka yang kita lakukan bukan memberantas narkoba, melainkan merawat keberlangsungannya,” pungkasnya.

Pesan ini menjadi alarm bagi para pengambil kebijakan untuk mulai mengalihkan anggaran dan energi dari sekadar ‘razia rutin’ menuju penguatan stabilitas sosial, akses pekerjaan, dan layanan kesehatan mental sebagai cara paling efektif untuk menutup pasar narkoba secara permanen.(Red)