kpkmsultra.com-Kendari, 13 Desember 2025-Sulawesi Tenggara – Angkatan Muda Bumi Anoa Sulawesi Tenggara (AMBA Sultra) merupakan organisasi sosial dan budaya berbasis jaringan yang mengedepankan model organisasi desentralisasi. Dalam struktur ini, organ maupun individu yang tergabung bekerja secara independen namun saling terhubung dan berkolaborasi secara fleksibel untuk mencapai tujuan bersama.

Berbeda dengan organisasi konvensional yang bertumpu pada hierarki formal yang kaku, AMBA Sultra mengedepankan kolaborasi, adaptivitas, serta pemanfaatan teknologi digital dalam komunikasi dan koordinasi. Model ini dinilai mampu menciptakan efisiensi tinggi serta respons cepat terhadap dinamika sosial dan budaya di tengah masyarakat.

Didirikan pada Mei 2024, AMBA Sultra secara konsisten mengampanyekan persatuan dan kerukunan lintas etnis di seluruh lapisan masyarakat Sulawesi Tenggara. Persatuan dipandang sebagai fondasi utama dalam mendorong kemajuan daerah Bumi Anoa.

Organisasi ini berawal dari inisiatif Stenly Diover, seorang seniman asal Kota Kendari, yang mengajak sejumlah tokoh pemuda dan tokoh masyarakat untuk membentuk wadah pergerakan pemuda sekaligus ruang silaturahmi bagi pemuda dan pemudi Sulawesi Tenggara yang memiliki latar belakang budaya yang sangat majemuk.

Inisiatif tersebut kemudian mendapat dukungan dari Falih Tunduoluto (pemuda Tolaki), Rhino Sarewo (pemuda Moronene), serta La Ode Fasikin (tokoh masyarakat Buton). Keempat tokoh ini sepakat mendirikan AMBA Sultra dan mendaftarkan organisasi tersebut secara resmi ke Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia.

Menurut Stenly Diover, perbedaan suku, ras, agama, dan golongan tidak boleh menjadi penghalang bagi pemuda Sulawesi Tenggara untuk bersatu dan saling bahu-membahu membangun Bumi Anoa. Empat pilar etnis asli Sulawesi Tenggara—Tolaki, Buton, Muna, dan Moronene—diharapkan dapat bersinergi di berbagai bidang serta merangkul lebih dari 20 etnis lainnya yang hidup berdampingan di wilayah Sultra.

Dalam bidang budaya, AMBA Sultra berkomitmen untuk terus melestarikan dan mempromosikan budaya asli Sulawesi Tenggara yang bersumber dari empat pilar etnis tersebut. Sementara dalam pergerakan sosial, AMBA Sultra membuka ruang seluas-luasnya bagi seluruh pemuda dan pemudi Sulawesi Tenggara tanpa memandang perbedaan suku, agama, maupun golongan.

Hingga saat ini, AMBA Sultra telah merangkul lebih dari 500 pemuda dan pemudi dari wilayah daratan maupun kepulauan Sulawesi Tenggara. Organisasi ini juga aktif membangun koordinasi dengan tokoh adat, tokoh masyarakat, serta berbagai organisasi masyarakat, kepemudaan, dan mahasiswa di seluruh daerah.

Pengurus Besar AMBA Sultra berkedudukan di Kota Kendari, dengan kepengurusan wilayah yang terbagi ke dalam lima wilayah utama, yakni Buton, Muna, Moronene, Konawe, dan Mekongga.

Sebagai bagian dari penguatan kelembagaan dan perluasan jaringan, AMBA Sultra membentuk struktur internal berupa Pengurus Wilayah (PW) yang mewadahi pemuda di wilayah Buton, Muna, Tolaki (Konawe–Mekongga), dan Moronene. Selain itu, dibentuk pula wadah pergerakan besar pemuda Bumi Anoa bernama Brigade AMBA Sultra (B.A.S).

Sejalan dengan basis pergerakan organisasinya, AMBA Sultra terus membangun sinergi dengan pemerintah daerah serta menjalin koordinasi dan konsolidasi dengan berbagai lembaga dan organisasi, baik di tingkat regional Sulawesi Tenggara, nasional, hingga jejaring internasional di kawasan ASEAN. Upaya ini dilakukan untuk memperkuat kolaborasi dalam melestarikan serta mempromosikan budaya Bumi Anoa agar semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.

(Media Center AMBA Sultra)