kpkmsultra.com-Kendari – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Ir. Hugua, M.Ling., hadir sebagai narasumber pada kegiatan Retret Pejabat Eselon II yang berlangsung di Aula Asrama C BPSDM Provinsi Sulawesi Tenggara, Selasa (9/12/2025).

Kegiatan ini diikuti sekitar 70 pejabat Eselon II, terdiri atas staf ahli, para asisten, kepala OPD lingkup Pemprov Sultra, serta para Kepala Bappeda kabupaten/kota se-Sulawesi Tenggara.

Dalam arahannya, Wakil Gubernur menekankan bahwa retret tersebut merupakan momentum strategis untuk memperkuat kolaborasi Forkopimda serta membangun harmoni dalam tata kelola pemerintahan. Ia menilai, ruang retret menjadi wahana refleksi bagi para pemimpin OPD untuk memahami diri, memperbaiki pola komunikasi, dan meningkatkan efektivitas kerja.

“Kita tidak bicara lagi soal tupoksi atau job. Kita bicara tentang apa yang ada di dalam diri, tentang perasaan terdalam, tentang aspirasi. Ini ruang untuk berdialog dengan diri sendiri,” ujar Hugua.

Wagub menjelaskan bahwa retret idealnya dilakukan dalam proses selama tujuh hari, namun kali ini dipadatkan menjadi sepuluh jam sehingga diperlukan kemampuan mengelola waktu dengan efektif.

“Ini bukan soal stres, tetapi bagaimana mengatur waktu agar pelatihan tetap efektif dan efisien,” tambahnya.

Menurut Hugua, kehadiran seluruh peserta menunjukkan komitmen untuk membangun hubungan yang lebih sehat, baik dengan diri sendiri maupun dengan sesama pemimpin birokrasi. Ia menilai, kolaborasi sering terhambat oleh batas-batas personal dan komunikasi yang kurang terbuka.

“Selama ini mungkin kita berbicara terlalu banyak, menginstruksi, menunjuk ‘kau, kau, kau’, tanpa melihat diri sendiri. Malam ini, kita belajar memahami diri,” jelasnya.

Pada sesi perdana, peserta diperkenalkan pada konsep dasar sebelum memasuki materi inti. Hugua menekankan bahwa banyak persoalan sosial dan ekologi yang muncul merupakan gejala dari masalah lebih fundamental yang tidak tersentuh.

Ia menghubungkan cara berpikir sebagai akar dari struktur, perilaku, hingga kondisi sosial dalam pembangunan daerah.

“Sumber melahirkan cara berpikir. Cara berpikir melahirkan struktur. Di dalam Islam disebut tauhid—keyakinan yang menuntun spiritualitas dan kesadaran,” paparnya.

Wagub menegaskan bahwa retret ini merupakan pendekatan cerdas untuk melakukan reset cara berpikir birokrasi, sehingga pemimpin tidak hanya sekadar mengatur, tetapi mampu menginspirasi, membangun teamwork, serta menjadi penggerak perubahan.

“Seorang pemimpin tidak cukup hanya mengelola, tetapi harus bisa membangun teamwork dan memotivasi bawahan,” ucapnya.

Hugua juga mengingatkan pentingnya memahami arah perjalanan pembangunan agar pemerintah daerah tidak terjebak pada persoalan turunan tanpa menyentuh akar masalah.

“Kalau kita tidak tahu arah perjalanan, kita kehilangan tujuan. Tapi kalau kita tahu arah, insyaallah kita akan sampai,” tegasnya.

Melalui retret ini, para pejabat diharapkan mampu membuka dialog dengan diri sendiri, lingkungan kerja, hingga semesta, sehingga tercipta harmoni antara manusia, organisasi, dan tujuan pembangunan daerah.

(Reporter: Ld. Zailudin)